Perubahan – #2

Lanjutan dari Perubahan – #1

Pekanbaru, 28 Oktober 2009
00:05 WIB

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup.
(sumber: wikipedia)


Aku memang belum cukup lama bergaul dengan kata tersebut. Bahkan aku belum mengetahui secara pasti apakah pengertian tersebut memang seperti itu yang berlaku sekarang. Malam ini, tepat sebelum aku membuat tulisan ini pada sebuah buku tulis yang baru saja kudapatkan secara cuma-cuma, aku menyadari satu hal. Alasan utama kamarku selalu terlihat berantakan adalah karena banyaknya tas yang berserakan di lantai.

Ya, aku tidak akan menyangkal bahwa tas-tas tersebut adalah milikku yang tidak pernah dapat kupastikan letaknya di kamar ini, walaupun aku masih dapat mengingat satu-persatu dari mereka kapan aku mulai memilikinya.

Tiga diantara tas-tas tersebut adalah mungkin yangΒ  menjadi awal mula munculnya pertanyaan awalku. Sebuah tas kubeli pada pertengahan Maret 2009. Kubeli pada suatu malam tepat sebelum rencana kepulanganku ke Lampung pada esok paginya. Kubeli tanpa ada rencana apapun. Hanya karena menyadari bahwa tas yang biasa kugunakan untuk pulang kampung ternyata tidak memiliki ruang khusus untuk laptop.
Tas kedua aku beli pada bulan Juli 2009. Mungkin merupakan kewajiban yang harus kupenuhi, setelah beberapa hari sebelumnya aku membeli sebuah kamera digital. Tidak terbayangkan sebelumnya jika memiliki sebuah barang elektronik juga berarti harus memiliki barang-barang pendukung lainnya.
Tas ketiga adalah rangkuman dari dua tas sebelumnya. Kubeli pada pertengahan September 2009. Sekal
i lagi, aku membeli tas pada malam hari tepat sebelum kepulanganku ke Lampung pada esok paginya. Tanpa ada rencana apapun. Aku hanya butuh tas yang bisa menampung laptop dan kamera digital!

Ah, begitu mudahnya aku mengeluarkan uang. Merasa butuh, tak perlu lama berpikir, langsung pergi dan beli!

Lalu pertanyaannya, apakah diriku yang sekarang telah merasakan apa yang dinamakan kesenangan dan kenikmatan materi?

*****

Aku ingat kejadian ketika aku kelas 2 SMA. Hanya berniat untuk menghabiskan sore hari di sebuah toko buku, aku melihat sebuah tas [yang menurutku saat itu] bagus, unik, keren dipajang di etalase bagian perlengkapan outdoor. Aku menatap tas itu cukup lama, kemudian berpaling ke tas yang sedang kukenakan, tas yang sudah menemaniku sejak SMP. Kemudian berpaling lagi ke tas di etalase tersebut. “Aku harus membelinya!” kataku dalam hati.
Namun niatku sempat ciut ketika aku melihat label harganya, “Darimana aku dapat uang sebanyak ini? Mengandalkan sisa uang jajan? Bisa lebih dari 3 bulan!”.

Esok harinya, aku memulai penghematan. Harus bisa menyelamatkan tiap rupiah yang bisa diselamatkan, walau berarti harus rela menahan rasa lapar di siang hari. Dan beberapa hari sekali selalu aku sempatkan untuk kembali ke toko buku tersebut, hanya sekedar memastikan bahwa tas impianku tersebut masih terpajang mulus di tempatnya.
Dari petugas di bagian itu aku mengetahui bahwa untuk model tersebut, barangnya hanya tinggal satu itu saja. Sehingga aku mempunyai kewajiban untuk mengamankannya dari pembeli lain. Hahaha, hanya dengan memandang tas itu aku seperti kembali mendapatkan semangat untuk berusaha mendapatkan apapun yang aku inginkan di dunia ini. Oke, mungkin sedikit berlebihan, tapi kira-kira seperti itulah perasaanku pada saat-saat itu.

Sudah lebih dari satu bulan berlalu sejak aku mengumpulkan uang. Usahaku tidak sia-sia, aku berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk menebus tas impianku.
Sepulang sekolah, aku langsung bergegas berjalan setengah berlari menuju toko buku, merasa tidak sabar untuk segera memiliki tas tersebut.
Sekitar 20 menit aku berjalan, sampai, dan hanya untuk menerima kenyataan bahwa tas tersebut sudah terjual sehari sebelumnya.

*****

Lalu dimasa kini?
Nampaknya perasaan susah saat mengumpulkan rupiah demi rupiah, perasaan ‘terbakar’ saat melihat barang yang diimpikan terpajang di etalase, dan yang paling utama, perasaan puas saat kita mendapatkan barang tersebut atau kecewa saat tidak mendapatkannya, tidak lagi hadir. Semuanya, tiba-tiba saja, menjadi datar. Tas-tas yang berserakan di kamarku ini seperti tidak memiliki emosi apapun. Tak ada perasaan ‘aku-harus-merawat-barang-yang sudah-kudapatkan-dengan-perjuangan’. Mereka terasa…. datar!

Lalu dimana kesenangan dan kenikmatan materi yang melekat pada kata hedonisme itu?

Jika benar sikap hedonisme adalah sebuah peranakan dari sikap konsumerisme seperti yang diyakini oleh sebagian orang, lalu dimana letak kenikmatan tersebut? Kenapa aku tidak merasakannya?

Aku hanya…. tidak merasakannya….

Ataukah selama ini aku yang salah mengartikan kata-kata tersebut?

Pekanbaru, 28 Oktober 2009
01:08 WIB

[dwisaputrahamid]

Advertisements

5 responses to this post.

  1. hiks. ga ngerti gan. hahaha. bcanda ah. :p — mungkin kamu salah mengartikan hedonisme dan kebutuhan gan. hemmm. — nyambung ga nih komentnya? πŸ™‚

    ________________________________________________________________

    [pacet gunung]
    nyambung kok, nyambung.. πŸ˜€
    iya gan, kayaknya gw musti mikir2 lagi nih.. ada yang salah..

    Reply

  2. KEDUAX..!!!
    SPAM dulu gan, comment nya nanti… πŸ˜€

    ________________________________________________________________

    [pacet gunung]
    oke gan..

    *udah ganti hari, mana komennya?! hehehehe..*

    Reply

  3. hmm… sepertinya terlalu dini untuk disebut bergaya hedonisme atau bukan. karena masih ada beberapa alasan logis yang mendasari kenapa dirimu lantas membeli tas-tas tersebut. yaitu, tidak semata dikarenakan “saya punya uang, dan saya beli”.

    coba ditelisik lebih jauh lagi bagian hidup lainnya. apakah telah benar-benar telah “dihamburkan” sia-sia atau tidak.

    syaratnya adalah: jangan masukkan hal-hal yang berkaitan dengan hobi untuk dikategorikan sebagai hedonis atau bukan.

    contoh: hobi fotografi, tentunya kita akan butuh beli lensa yang bagus, tempat yang save untuk menyimpannya, pembersih lensa, tripod, dan hal lainnya yang tentunya butuh biaya yang tidak sedikit. hal ini saya tidak setuju untuk dikatakan hedonis karena hobi adalah salah satu bagian yang kita sebut “menikmati hidup” yang berimbas pada “jiwa” bukan pada “materi” πŸ™‚

    *hehehe. sorry ya komennya kepanjangan*

    ________________________________________________________________

    [pacet gunung]
    wah, makasih banyak uni.. gpp kok kepanjangan..
    komenmu telah menyadarkanku uni.. ah, lega ternyata gw blom terjebak di dunia hedon. hehehe..
    sekarang yg masih jd masalah, mereka, barang2 itu tidak ‘bernyawa’.. [emang barang apa yg bernyawa?]
    *bingungsendiri*

    Reply

  4. Sebuah pencerahan yang baik, Do. Tapi, gimana pun masa senang kita sekarang tak boleh membuat kita lupa bahwa kita pernah susah. Mungkin dengan berbagi sedikit dengan orang lain bisa merefleksikan tentang tujuan hidup kita tak hanya materi semata.

    Bingung aku nulis apa barusan… Kalo gak ngerti, harap maklum aja πŸ˜€

    ________________________________________________________________

    [pacet gunung]
    terima kasih om.. kayaknya gw butuh pencerahan dari dirimu..
    nyok hunting bareng.. dah penat otak gw om..

    Reply

  5. Posted by mayank on December 8, 2009 at 5:41 pm

    salam kenal pacet gunung…
    orang lampungkah juga….

    sama kaya gue juga pernah ngalamin
    dan pernah denger
    “hedonis, egois…”
    kadang perlu hedon tapi ga hedon-hedon…
    kan masih banyak orang diluar sana yang perlu banyak sympati…*sotoy*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: